Pakaian Adat Yogyakarta

Pakaian Adat Yogyakarta – Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan sebuah daerah di selatan Pulau Jawa yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah dan Samudera Hindia. Daerah ini adalah perubahan dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai daerah setingkat provinsi di Indonesia.

Pada tahun 1950, Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat menyatu dengan Indonesia karena adanya perasaan senasib seperjuangan melawan penjajah yang datang menyerang.

Karena berasal dari sebuah Kesultanan, Yogyakarta sangat tidak bisa dilepaskan dari kebudayaannya. Kebudayaan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno, Mataram Islam, dan peradaban sisa-sisa kolonialisme sangat kental terasa di daerah ini.

Lebih dari sekedar kebudayaan berupa kesenian, kebudayaan di Yogyakarta sudah menjadi tolak ukur dan gaya hidup dari masyarakatnya. Bahkan, masyarakat Yogyakarta masih sangat menghormati segala adat istiadat yang berlaku dalam menjalani hidup.

Hal ini dapat terlihat dari kehidupan sosial, kesenian, upacara adat, dan pemikiran yang berjalan di masyarakat.Tidak ketinggalan adalah pakaian adat yang masih sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat.

Meskipun banyak terpengaruh pakaian adat Jawa Tengah dari daerah Kesultanan Surakarta dan sekitarnya, pakaian adat Yogyakarta tetap memiliki ciri khas dan filosofinya tersendiri.

Untuk lebih lengkapnya, simak penjelasan tentang pakaian adat Yogyakarta berikut:

Pakaian Adat Yogyakarta Pria

pakaian adat Yogyakarta pria

Surjan

Surjan adalah pakaian adat Yogyakarta khusus dikenakan oleh pria. Pakaian ini berupa kemeja berlengan panjang yang memiliki kerah kecil di bagian atas.

Pakaian adat Yogyakarta ini berasal dari kata Siro dan Jan yang mempunyai makna pelita atau yang memberi terang. Dengan segala filosofi yang erat kaitannya dengan unsur religi, surjan juga sering disebut dengan “pakaian taqwa”.

Hal ini mengacu pada detail surjan antara lain, 3 pasang kancing pada bagian leher baju surjan memiliki makna rukun iman dalam Agama Islam.Rukun iman tersebut adalah iman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada kitab-kitab, iman kepada utusan Allah, iman kepada hari kiamat, iman kepada takdir.

Selain itu, surjan juga dilengkapi dengan dua buah kancing di bagian dada sebelah kanan dan kiri. Kancing tersebut bermakna dua kalimat Syahadat sebagai salah satu hal terpenting dalam Agama Islam.

Tidak lupa tiga buah kancing di bagian dalam pakaian yang memiliki arti nafsu manusia. Nafsu-nafsu tersebut yaitu nafsu Aluamah, Amarah, dan Supiyah. Letak kancing yang berada di dalam pakaian dimaksudkan agar nafsu tersebut dapat dikendalikan dan ditutup oleh para pengguna surjan.

Pada pemakaiannya, surjan akan dilengkapi dengan penutup kepala yang disebut blangkon. Blangkon Yogyakarta sekilas terlihat mirip dengan blangkon solo, namun terdapat beberapa perbedaan.

Blangkon Yogyakarta memiliki mondolan pada bagian belakang blangkon. Mondolan mempunyai filosofi yang erat kaitannya dengan masyarakat adat jawa yang harus selalu menyimpan rahasia, tidak suka membuka aib orang lain atau diri sendiri.

Baca Juga: Pakaian Adat Betawi

Selain itu, berkaitan juga dengan sopan santun dalam bertutur kata dan menjaga tingkah laku dengan halus sesuai dengan budi pekerti orang jawa.

Untuk melengkapi penampilan, pria yogyakarta yang memakai surjan akan mengenakan selop sebagai alas kakinya.

Pakaian Adat Yogyakarta Wanita

kebaya pakaian adat Yogyakarta wanita

Kebaya

Kebaya adalah pakaian adat Yogyakarta untuk wanita. Kebaya juga dipakai oleh wanita di Surakarta dan beberapa daerah di Jawa Tengah.

Pakaian ini terbuat dari kain brokat yang tipis dan dilengkapi kemben di bagian dalam. Kemben ini sebagai penutup payudara, ketiak hingga punggung. Kain ini akan dipadukan dengan stagen untuk dililitkan pada bagian perut sebagai pengikat tapihan pinjung agar kuat dan tidak mudah lepas. Wanita Yogya memadukannya dengan kain tapih pinjung atau songket sebagai bawahan.

Pakaian adat Yogyakarta yang satu ini dipakai oleh segala golongan masyarakat tanpa melihat status sosialnya. Kebaya biasa digunakan sebagai baju sehari-hari ataupun baju adat ketika berlangsung upacara adat.

Hanya saja, ketika upacara adat berlangsung, para wanita akan melengkapi dandanannya dengan beberapa riasan dan aksesoris tambahan seperti peniti renteng yang berpadu dengan kain sinjang atau jarik bercorak batik.

Perempuan adat Yogyakarta juga menyanggul rambutnya dan memakai beberapa perhiasan seperti ubang, cincin, kalung dan gelang.

Sejarah mencatat, dahulu kebaya di Pulau Jawa pakaian yang hanya dikenakan oleh para keluarga kerajaan. Ketika Belanda datang, tidak sedikit wanita Eropa yang mulai mengenakan kebaya sebagai pakaian resmi. Hanya saja, kebaya mengalami beberapa modifikasi dari yang hanya menggunakan kain tenunan mori menjadi menggunakan benang sutera.

Kebaya terus mengalami perkembangan sampai sekarang. Pakaian adat ini selalu dirancang sesuai dengan perkembangan zaman tanpa menghilangkan nilai-nilai yang terkandung.

Sebab, bagi wanita jawa memakai kebaya lebih dari sekedar menutupi anggota tubuh. Kebaya memiliki filosofi berupa kepatuhan, kehalusan, dan tindak tanduk wanita yang diharuskan lembut dan santun.

Pakaian Adat Yogyakarta Anak Laki-laki

pakaian adat Yogyakarta anak

Kencongan

Kencongan adalah nama pakaian adat Yogyakarta khusus untuk anak laki-laki. Pakaian yang biasa dipakai sehari-hari ini terdiri dari baju surjan, lengkap dengan kain batik berwiru tengah.

Anak-anak Yogyakarta biasanya akan memakai lonthong tritik, timang, dan kamus songketan. Dengan penutup kepala yang disebut dhestar.

Sedangkan, untuk menghadiri upacara adat, anak laki-laki biasanya akan menggunakan baju surjan dengan beberapa tambahan aksesoris seperti ikat pinggang sejenis kamus songketan khusus berupa tambahan cathok dari suawa atau emas.

Pakaian Adat Yogyakarta Anak Perempuan

Sabukwala Padintenan

Sabukwala Padintenan adalah busana harian anak perempuan adat Yogyakarta. Pakaian ini berupa jarik atau kain batik dengan motif parang, gringsing atau ceplok.

Tidak lupa, baju berbahan katun, serta ikat pinggang kamus yang dihiasi dengan hiasan bermotif flora atau fauna.

Sebagai pelengkap, anak perempuan yang memakai pakaian adat Yogjakarta ini akan mengenakan kalung emas liontin berupa uang dinar. Serta, gelang dengan bentuk ular yang biasa disebut gligen dan juga model sigar penjalin sebagai pemanis tampilan.

Ada beberapa macam sabukwala yang biasa dipakai oleh anak perempuan adat Yogyakarta.

  • Sabukwala nyamping batik untuk busana sehari-hari dan upacara alit.
  • Sabukwala nyamping praos sebagai pakaian adat untuk resepsi yang diadakan bersamaan dengan upacara supitan.
  • Sabukwala nyamping cindhe untuk upacara grebeg dan tetesan.

Leave a Comment