Pakaian Adat Papua

Pakaian Adat Papua – Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.504 pulau menghampar dari Sabang hingga Merauke. Dengan pulau sebanyak itu membuat Indonesia seperti tidak kehabisan kekayaan alam, baik itu destinasi wisata maupun sumber daya alamnya.

Terlebih penduduk Indonesia terdiri dari 1.340 suku bangsa dan 300 kelompok etnik. Keberagaman inilah yang membuat Indonesia memiliki banyak kebudayaan yang sayang untuk dilewatkan.

Kesenian daerah, bahasa daerah, dan upacara adat adalah bagian dari kebudayaan yang lumrah dimiliki oleh setiap suku di Indonesia. Salah satu yang tidak boleh dilupakan ketika membicara kan kebudayaan adalah pakaian adat daerah.

Sebagai unsur penunjang identitas daerah, kehadiran pakaian adat memiliki peran penting dalam membentuk ciri sebuah suku adat.

Salah satu daerah yang memiliki pakaian adat dengan keunikan dan ciri yang khas adalah Papua. Daerah paling timur Indonesia ini selalu menjadi pusat pembicaraan ketika membahas kebudayaan seperti halnya rumah adatnya dan lagu daerahnya.

Papua adalah provinsi terluas di Indonesia. Provinsi ini didiami oleh beberapa suku diantaranya Suku Asmat, Suku Dani, Suku Biak, Suku Kamoro, dan Suku Waropen. Dari beberapa suku tersebut, lahirlah pakaian adat Papua yang digunakan oleh masyarakat pada upacara adat dan kehidupan sehari-hari.

Nah, makin penasaran bukan dengan pakaian adat Papua? Yuk kita simak penjelasan lengkap dari pakaian adat Papua dibawah ini:


Koteka – Pakaian Adat Papua

koteka - pakaian adat papua

Koteka merupakan pakaian adat papua khusus untuk laki-laki yang sangat unik. Tidak seperti pakaian pada umumnya yang menutupi seluruh badan, koteka adalah pakaian yang hanya menutupi kelamin laki-laki.

Pada pemakaiannya, laki-laki akan bertelanjang dada dan hanya menutup kemaluan mereka dengan koteka.

Koteka dibuat dari labu air yang dikeringkan. Labu air dipilih yang sudah tua lalu isi dari buah tersebut dikeluarkan hingga berbentuk seperti selongsong. Setelah itu labu di jemur di terik matahari agar awet dan tidak busuk.

Setelah mengering dan keras, barulah koteka siap digunakan sebagai pakaian. Pemilihan labu air yang sudah tua ini bertujuan agar mendapatkan kulit buah yang lebih keras.

Koteka sendiri bermakna pakaian dalam bahasa Suku Paniai. Namun, nama koteka hanya dipakai oleh beberapa suku, sedang di lain tempat menyebutnya dengan istilah lain. Suku adat di Pegunungan Jayawijaya menyebut koteka dengan nama Horim.

Disamping itu, bentuk koteka juga beragam mengikuti adat istiadat setiap suku. Misalnya, Suku Yali yang menggunakan koteka dari labu yang panjang. Sedangkan koteka yang digunakan oleh orang-orang Suku Tiom memiliki dua labu.

Baca Juga: Pakaian Adat Suku Dayak

Sebab, besar ukuran koteka juga ditentukan berdasarkan status sosial pemakai di kebudayaan adat istiadat suku tersebut. Biasanya, makin besar koteka, berarti makin terpandang seseorang di mata suku.

Koteka tidak hanya dipakai saat upacara adat, namun pada kehidupan sehari-hari. Pada pemakaiannya, koteka yang pendek biasanya dipakai sehari-hari karena menyesuaikan dengan aktivitas.

Namun, koteka sudah jarang dipakai di daerah perkotaan karena dilarang di beberapa tempat seperti sekolah dan angkutan umum. Meskipun begitu koteka bisa ditemukan di beberapa sentra kerajinan tangan untuk cinderamata.


Rok Rumbai – Pakaian Adat Papua

rok rumbai papua

Rok Rumbai adalah pakaian adat papua yang dipakai pria juga wanita. Rok ini dibuat dari daun sagu kering yang disusun sehingga membentuk sebuah rok.

Sama seperti pria, wanita yang menggunakan pakaian adat papua ini hanya memakai bawahan berupa rok rumbai. Sebagai pengganti atasan, wanita di papua melukis tubuh bagian atasnya dengan maksud menyamarkan bagian tubuh mereka. Corak flora dan fauna dipilih sebagai corak pada lukisan karena dianggap memiliki filosofi tersendiri.

Sebagai pelengkap pakaian adat rok rumbai, wanita papua menggunakan aksesoris yang berupa penutup kepala yang dibuat dari ijuk dengan tambahan bulu Kasuari.

Rok rumbai dipakai wanita adat Papua pada upacara adat dan juga sehari-hari. Sedangkan pria-pria Papua menggunakan rok ini saat upacara adat tertentu dan beberapa tarian adat papua.


Pakaian Adat Papua untuk Wanita

pakaian adat papua sali

1. Sali

Sali adalah pakaian adat papua yang dipakai oleh perempuan yang belum menikah. Pakaian adat ini terbuat dari bahan kulit pohon.

Pakaian ini berbentuk anyaman yang melingkar menutup badan dan bertekstur seperti kain halus. Kebanyakan sali berwarna kecoklatan, karena menggunakan kulit pohon tertentu yang memang berwarna coklat.

Pakaian ini menjadi pembeda antara perempuan Papua yang masih lajang dengan yang sudah menikah.

2. Yokal

Yokal adalah pakaian adat papua untuk perempuan yang sudah menikah atau berkeluarga. Sama dengan baju adat Sali, pakaian ini juga terbuat dari kulit pohon hanya saja memiliki warna lebih kemerahan.

Yokai banyak ditemui di daerah adat Papua Barat dan sekitarnya. Pakaian ini menjadi lambang kebanggaan bagi seluruh wanita adat yang sudah menikah.

Di daerah Pegunungan Jayawijaya, Sali dan Yokal bukan hanya berarti pakaian adat papua untuk wanita. Lebih dari itu, Sali dan Yokal digunakan untuk memanggil dan membedakan perempuan lajang dengan perempuan yang telah berkeluarga.


Aksesoris Adat Papua

taring babi papua

Pakaian adat Papua selalu dilengkapi dengan aksesoris yang sengaja dibuat untuk memperindah tampilan adat papua. Kebanyakan aksesoris ini terbuat dari bahan yang disediakan oleh alam.

Berikut beberapa aksesoris yang dipakai pada saat menggunakan pakaian adat Papua:

  • Kalung yang dibuat dari gigi Anjing
  • Taring Babi sebagai perhiasan yang digunakan di hidung.
  • Penutup kepala. Layaknya mahkota, penutup kepala ini dibuat dari anyaman akar kayu, ijuk dengan hiasan bulu burung kasuari.
  • Tas Noken. Tas Noken adalah tas anyaman yang berbahan kulit kayu. Tas tradisional papua ini berguna pada saat berburu dan juga menyimpan beberapa bahan makanan. Tas Noken ini akan diselempangkan di kepala saat dipakai.

Senjata Adat Papua

busur panah papua

Seperti suku pada umumnya, masyarakat Papua juga memiliki senjata tradisional yang dipakai baik dalam kehidupan sehari-hari maupun sebagai pelengkap baju adat Papua. Berikut jenis-jenis senjata adat Papua:

1. Tombak

Tombak adalah senjata adat dari Papua yang biasa dipakai untuk berburu hewan. Tombak biasanya dibuat dari kayu panjang dengan batu atau tulang tajam sebagai mata tombak. Namun, ada juga mata tombak yang sudah terbuat dari bahan logam dan besi tajam.

Pada pemakaiannya, biasanya masyarakat Papua akan melumuri mata tombak dengan racun agar mudah dalam melumpuhkan hewan buruan mereka.

2. Busur Dan Anak Panah

Senjata adat Papua satu ini sudah sangat identik dengan masyarakat adat Papua. Busur dan panah sering dipakai pada saat melindungi diri dan juga pada saat berburu hewan.

Busur panah dibuat dari rotan dengan batu dan tulang sebagai ujung anak panahnya. Sayangnya, busur panah juga sering digunakan dalam perang antar suku yang terjadi di daerah Papua.

3. Pisau Belati

Pisau belati pada senjata adat Papua dibuat dari tulang burung kasuari yang diasah hingga tajam. Sedangkan sebagai genggamannya, masyarakat adat papua menghias belati ini dengan bulu dari burung kasuari.

Meskipun berbahaya, banyak wisatawan yang membeli senjata tradisional ini untuk digunakan sebagai pajangan.

4. Kapak Batu

Seperti namanya, kapak masyarakat Papua dibuat dari batu tajam yang diikat dengan gagang dari kayu atau rotan. Kapak batu biasanya digunakan bercocok tanam dan aktivitas perkebunan lainnya.


Pakaian adat Papua menjadi segelintir kekayaan budaya di Timur Indonesia selain keindahan alam dan kesenian lainnya. Sebuah kebanggan bagi kita Bangsa Indonesia memiliki karunia yang seolah tidak ada habisnya.

Satu yang perlu dicatat bahwa kita wajib melestarikan seluruh kekayaan yang kita miliki.

Leave a Comment