Pakaian Adat Nusa Tenggara Timur

Pakaian Adat Nusa Tenggara Timur – Indonesia dikenal sebagai dengan masyarakat yang sangat beragam. Mulai dari tampilan fisik, agama, suku, adat, serta kebiasaan yang dimiliki.

Bahkan, setiap daerah di Indonesia juga memiliki keberagamannya tersendiri. Pengelompokan suku ini biasanya berasal dari sejarah, daerah tempat tinggal maupun silsilah keturunan. Salah satu provinsi yang memiliki banyak suku di dalamnya adalah Nusa Tenggara Timur (NTT).

NTT adalah provinsi yang terdiri dari kepulauan dengan tiga pulau utama yaitu Pulau Flores, Pulau Sumba dan Pulau Timor. Pulau-pulau ini dihuni oleh masyarakat yang dibagi menjadi empat suku yang ada di NTT.

Nah, suku-suku inilah yang membuat NTT sangat kaya akan kebudayaannya, mulai dari alat musik tradisional, lagu daerah, sampai pakaian adat yang mendunia. Khusus untuk pakaian adat, setiap suku di NTT memiliki ciri khasnya masing-masing.

Untuk penjelasan lebih lengkapnya, mari kita simak pembahasan pakaian adat NTT lengkap dengan pembahasan kain tradisional NTT di bawah ini. Cekidot!


Pakaian Adat Suku Rote

pakaian adat sumba
Sumber: NTT1958

Suku Rote adalah suku di Provinsi NTT yang merupakan penduduk asli dari Pulau Rote meskipun sebagian dari mereka menetap di Pulau Timor. Pulau Rote sebagai paling selatan Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang melimpah.

Terlebih, pakaian adat Suku Rote dengan kain tenun tradisionalnya sudah terkenal di Indonesia bahkan dunia. Bentuknya yang khas dan menarik membuat pakaian adatnya mudah diingat oleh orang-orang.

Pakaian adat wanita Suku Rote

Pakaian adat wanita Suku Rote yang ada di NTT terdiri dari kebaya lengan pendek yang dipadukan dengan kain tenun sebagai bawahannya. Kain tenun yang dipakai terbuat dari benang lungsin yang dipintal di alat tenun tradisional.

Wanita Suku Rote juga mengenakan selendang atau biasa disebut kain tenun lotis pada bagian bahu sebagaimana wanita Batak mengenakan ulos. Selain itu, perhiasan berbentuk bulan sabit dan bintang juga dipakai di kepala menghiasi rambut yang disanggul rapi. Perhiasan ini dibuat dari emas atau kuningan.

Tidak ketinggalan, sebuah sabuk emas bernama pending. Pending ini terbuat dari perak atau logam yang ditempa hingga membentuk sebuah ikat pinggang bercorak hewan dan kembang.

Sebagai pelengkap pakaian adat NTT Suku Rote, wanita akan memakai kalung susun habas. Habas adalah kalung emas yang diwariskan turun-temurun dan dipercaya memiliki kekuatan spiritual.

Baca Juga: Pakaian Adat Papua

Pakaian Adat Pria Suku Rote

Pakaian adat pria suku Rote sudah menjadi ikon dari pakaian adat Provinsi NTT. Pria Rote menggunakan kemeja panjang berwarna putih polos dipadukan dengan kain sarung tenun khas Pulau Rote.

Yang membuat pakaian ini menjadi sangat ikonik adalah penggunaan penutup kepala yang berupa topi besar yang mirip dengan topi sombrero dari Meksiko. Topi ini bernama Ti’i Langga.

Topi asli Pulau Rote ini terbuat dari bahan dasar daun lontar yang dikeringkan. Topi Ti’i Langga memiliki bentuk yang unik seperti antena yang tinggi. Makin tua topi ini, warnanya akan menjadi kecoklatan dan antena yang tadinya tegak lurus akan menjadi lebih miring.

Ti’i Langga memiliki makna kepemimpinan, sifat wibawa dan percaya diri pemakainya.

Biasanya, topi Ti’i Langga dipakai saat memainkan alat musik tradisional NTT yaitu sasando. Terlebih topi ini juga dipakai oleh wanita Suku Rote pada waktu tertentu misalnya ketika memainkan tarian adat NTT bernama Tari Foti.


Pakaian Adat Suku Sabu

baju adat ntt
Sumber: nyong_dan_nona_sabu

Suku Sabu merupakan salah satu suku di Provinsi NTT, tepatnya di Kabupaten Kupang di wilayah Pulau Hawu atau Pulau Sabu. Suku ini memiliki baju adatnya sendiri sebagai sebuah identitas.

Pria Suku Sabu memiliki pakaian adat berupa kemeja putih dengan tambahan beberapa aksesoris pelengkap. Sebagai bawahannya, kaum pria Suku Sabu menggunakan kain tenun tradisional NTT.

Aksesoris yang digunakan pada pakaian adat ini antara lain sepasang gelang emas, kalung mutisalak dan juga penutup kepala berbentuk serupa dengan mahkota. Penutup kepala ini disebut juga mahkota tiang tiga yang terbuat dari logam maupun emas.

Sementara itu, pakaian adat untuk kaum wanita masih mengenakan kebaya. Namun, pada beberapa upacara adat, wanita akan mengenakan kain tenun dua lilitan yaitu pada bagian dada dan bawahan.

Pada bagian kepala, rambut disanggul dengan ditambahkan perhiasan tusuk konde berbentuk mata uang kuno. Untuk memperindah tampilan, wanita Suku Sabu juga menggunakan gelang emas, kalung mutisalak dan sabuk pending seperti yang dipakai wanita Suku Rote.


Pakaian Adat Suku Helong

pakaian adat ntt
Sumber: Yusripallo88

Suku Helong merupakan suku yang bermukim di Pulau Timau dan Semau. Konon, penduduk asli suku ini adalah warga yang berpindah dari Pulau Halong di daerah Maluku. Oleh sebab itu, suku Helong memiliki karakteristik tersendiri pada pakaian adatnya.

Pakaian adat Suku Helong untuk pria adalah baju bodo atau kain tenun tradisional NTT yang disilangkan dari bahu menutup dada. Sebagai bawahannya, Pria menggunakan kain tenun berupa selimut yang diikat di bagian pinggang. Para pria akan menggunakan penutup kepala yang disebut destar.

Sedangkan pakaian adat wanita Suku Helong berupa kain tenunan dua lapis yang disilangkan dari bahu sebagai penutup dada ditambah panjang sebagai bawahannya. Kain ini diikat dengan pending emas di bagian pinggang.

Sebagai pemanis, wanita Suku Helong menggunakan ikat kepala bula molik dan juga anting-anting dari emas.


Pakaian Adat Suku Dawan

nama pakaian adat ntt
Sumber: MetroTV

Suku dawan merupakan salah satu suku yang penduduknya tersebar di beberapa wilayah di Provinsi NTT seperti Kabupaten Timor, Kabupaten Kupang dan Kabupaten Belu. Suku ini juga sering disebut dengan Atoni Pah Meto yang masih hidup di daerah pedalaman.

Penduduk Suku Dawan hidup teratur sesuai pembagian marga yang telah ditentukan berdasarkan adat istiadat. Mayoritas penduduk suku ini berprofesi sebagai petani dan masih menjunjung tinggi kelestarian alam sesuai kepercayaan adat istiadat mereka.

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Suku Dawan memakai pakaian adat yang disebut Baju Adat Amarasi. Baju Amarasi untuk pria berupa kain tenun selimut yang diikat di bagian pinggang seperti sarung dengan tambahan aksesoris ikat kepala.

Sementara itu, wanita Suku Dawan juga menggunakan kain tenun sebagai Baju Amarasi. Namun kain tenun tersebut juga dililitkan di bagian dada dan dibuat rok panjang sebagai bawahannya. Aksesoris yang digunakan juga sederhana berupa gelungan rambut dan selendang yang juga dibuat dari kain tradisional NTT.

Baca Juga: Pakaian Adat Suku Minang


Kain Tenun NTT

kain tenun ntt

Bicara soal pakaian adat Provinsi NTT tidak akan lengkap jika tidak membahas juga elemen penting dari pakaian adat daerah ini yaitu kain tenun tradisional NTT.

Kain ini ditenun secara tradisional menggunakan benang lungsin yang diikat dan diberi pewarna alami dari akar pohon dan dedaunan. Kain ini dipercaya sudah ada dari zaman penduduk asli Nusa Tenggara ribuan tahun yang lalu.

Pada pembuatannya, benang yang dipakai berasal dari kapas yang dipintal dengan alat tradisional. Benang tersebut diberi warna dari daun Ru Dao untuk mendapatkan warna nila dan akar pohon Ka’bo. untuk mendapat warna merah, warna kuning didapat menggunakan kunyit dan daun Menkude.

Setelah warna meresap dan dibiarkan mengering baru diikat pada mesin tenun tradisional yang dalam bahasa setempat disebut Lana Her’ru. Benang pakan dimasukkan secara horizontal terhadap benang lungsin yang telah diikat secara vertikal.

Bagi sebagian masyarakat adat di NTT hal terpenting adalah proses bertapa dan mencari ilham dengan cara berdoa ke leluhur agar mendapat motif dan corak yang hendak dipakai. Hal ini berkaitan dengan lancarnya proses menenun dan menolak bala selama proses menenun dilakukan.

Jenis Kain Tenun NTT

Kain tenun tradisional NTT memiliki banyak fungsi lainnya selain digunakan dalam pakaian adat. Keberagaman suku dan adat istiadat di provinsi ini memiliki andil besar pada perbedaan jenis kain yang ditentukan dari cara membuat, kegunaan dan juga daerah asalnya.

Berdasarkan cara membuatnya, kain ini dibagi menjadi tiga jenis yaitu kain tenun ikat, tenun buna, dan tenun lotis. Sementara itu, kain ini juga dibagi menjadi tiga jenis berdasarkan kegunaannya yaitu selendang, selimut dan sarung.

Fungsi Kain Tenun di NTT

fungsi yang dimiliki kain tenun tradisional. Berikut adalah beberapa fungsi lain dari Kain Tenun di NTT:

  • Mahar dalam perkawinan dalam bahasa daerah disebut sebagai “belis” nikah.
  • Pemberian dalam acara kematian dan sebagai wujud penghargaan.
  • Penunjuk status sosial.
  • Alat untuk membayar hukuman jika terjadi ketidakseimbangan.
  • Alat barter/transaksi.
  • Sarana bercerita tentang mitos dan cerita-cerita yang tergambar di motif-motif nya.
  • Bentuk penghargaan bagi tamu yang datang berkunjung.

2 thoughts on “Pakaian Adat Nusa Tenggara Timur”

Leave a Comment