Pakaian Adat Jawa Tengah

Pakaian Adat Jawa Tengah – Jawa Tengah adalah salah satu provinsi tertua di Indonesia yang dibangun pada zaman Hindia Belanda di tahun 1905. Berbeda dengan sekarang, di zaman dahulu Jawa Tengah dibagi menjadi 5 karesidenan yaitu Semarang, Rembang, Kedu, Banyumas dan Pekalongan.  Sedangkan Surakarta masih terhitung sebagai kerajaan besar dan mangkunegaran berupa kota Yogyakarta.

Banyaknya kerajaan yang menempati daerah ini tidak hanya meninggalkan cerita sejarah peperangan, melainkan juga sejarah kebudayaan yang sangat kental. Mulai dari upacara adat, kesenian, hingga pakaian adat.

Warisan kebudayaan inilah yang masih sangat dijaga oleh masyarakat asli Jawa Tengah bahkan sampai ke daerah perantauan mereka. Hal ini yang membuat pengaruh besar terhadap eksistensi segala macam kebudayaan Jawa Tengah di Indonesia salah satunya adalah pakaian adatnya.

Pakaian adat jawa tengah seolah memiliki tempat khusus di hati masyarakat. Terlebih, banyak desainer zaman sekarang yang memadu padankan pakaian adat ini menjadi lebih menarik dan modern untuk dipakai segala golongan.

Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pakaian adat Jawa Tengah banyak dipakai di acara-acara formal seperti pernikahan maupun pertemuan para petinggi negeri yang terkadang tidak bertemakan adat Jawa sama sekali.

Untuk itu, penting bagi kita untuk mengetahui lebih lengkap tentang pakaian adat satu ini. Berikut beberapa jenis dan penjelasan dari pakaian adat Jawa Tengah.

Jawi Jangkep

Jawi jangkep adalah pakaian adat jawa tengah lengkap yang dipakai oleh pria. Pakaian yang berasal dari Keraton Kasunanan Surakarta ini merupakan pakaian adat resmi yang didaftarkan sebagai pakaian adat daerah jawa tengah. Jawi jangkep terdiri dari atasan berupa beskap bermotif bunga beserta kain jarik sebagai bawahannya.

Pada umumnya, pakaian ini akan dilengkapi dengan berbagai aksesoris seperti keris, alas kaki berupa selop, kalung bunga melati, epek, timang dan lerep sebagai ikat pinggang  dan tidak lupa blangkon sebagai penutup kepala.

Jawi Jangkep termasuk  pakaian adat Jawa Tengah yang formal dan biasa digunakan dalam acara adat pernikahan Jawa.

Blangkon

Blangkon adalah penutup kepala tradisional yang dipakai masyarakat di jawa tengah. Blangkon memiliki filosofi hubungan antara makhluk hidup dan Sang Pencipta. Hal ini disimbolkan oleh kedua ujung blangkon yang bermakna syahadat Tauhid dan syahadat Rasul.

Perpaduan dua syahadat ini akan menjadi Syahadatain yang diletakkan di bagian paling atas dari makhluk hidup yaitu kepala.

Dengan begitu, masyarakat jawa percaya dengan menaruhnya di tempat terhormat (kepala), segala pemikiran dan akal yang keluar akan selalu berdasarkan syariat Agama Islam.

Seiring zaman, blangkon juga menyimbolkan status sosial dan asal usul pemakainya. Hal ini ditunjukan dengan perbedaan pada corak wiron, jabehan, cepet, waton, kuncungan dan ragam hias lainnya.

Baca juga : Pakaian Adat Bali

Surjan

Surjan adalah baju adat jawa tengah untuk pria berupa kemeja lengan panjang dengan kerah kecil. Surjan terbuat  dari kain yang memiliki motif bunga atau lurik.

Nama surjan diambil dari gabungan kata  Suraksa-Janma yang berarti menjadi manusia. Sumber lain mengatakan, bahwa surjan memiliki arti pelita yang berasal dari kata siro dan jan.

Baju adat jawa tengah yang satu ini konon diciptakan oleh Sunan Kalijaga dna sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram Islam. Surjan memiliki filosofi kental dengan syariat islam yang ditandai dengan:

  • 6 buah kancing, lambang dari Rukun Iman
  • 2 buah kancing di bagian dada, melambangkan dua kalimat syahadat
  • 3 buah kancing di bagian dada dekat perut, sebagai lambang hawa nafsu manusia yang harus dijaga.

Pada jaman dahulu, Surjan menjadi pakaian adat jawa tengah yang hanya terbatas pada golongan bangsawan dan abdi keratin saja.

Seiring waktu, Surjan menjadi salah satu pakaian adat yang cukup digemari para masyarakat bahkan wisatawan untuk dipakai sehari-hari.

Kebaya

Puas membahas pakaian adat jawa tengah untuk pria, tidak adil rasanya jika tidak membahas pakaian adat jawa tengah untuk wanita.

Adalah kebaya, atasan tradisional adat jawa yang dipakai khusus untuk wanita. Kebaya berasal dari kata abaya dalam bahasa Arab yang berarti pakaian . Pakaian adat jawa tengah yang satu ini konon berasal dari Tiongkok ratusan tahun yang lalu melalui Sumatera, Malaka, Jawa hingga ke Pulau Bali dan mengalami proses akulturasi di masing-masing daerah.

Kebaya terbuat dari kain brokat tipis dengan kemben yang dipadukan dengan kain tapih pinjung atau songket sebagai bawahan.

Pakaian adat ini dipakai oleh wanita suku jawa tidak hanya ketika upacara adat melainkan juga menjadi pakaian sehari-hari mereka.

Bagi wanita Jawa, Kebaya memiliki makna kepatuhan, kehalusan, dan tindak tanduk wanita yang digambarkan selalu penuh dengan kehangatan dan kelembutan.

Kain padanan kebaya diikat kencang bertujuan untuk menambah anggun wanita Jawa ketika berjalan. Hal ini selaras dengan filosofi kebaya yang menunjukan keanggunan dan kehalusan wanita Jawa.

Hingga saat ini, citra khas kebaya selalu melekat kepada pemakainya. Tidak dipungkiri pula, di tangan kreatif para desainer masa kini membuat kebaya semakin digandrungi seluruh kalangan bahkan anak muda.

 

Leave a Comment